Membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah
Surat al-Fatihah adalah surat pembuka dalam Al-Qur'an dan menjadi surat yang sangat penting dalam ibadah Shalat bagi umat Muslim. Surat ini juga dikenal dengan sebutan "Ummul Kitab" atau "Ibu dari Kitab" karena merupakan dasar Al-Qur'an yang mencakup segala hukum, moral, dan pedoman bagi kehidupan seorang Muslim. Membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah memiliki beberapa aspek penting yang patut untuk diulas.
Hukum Membaca Basmalah dalam Shalat
Bagaimana hukum membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim) dalam Surat al-Fatihah ketika shalat? Dan kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya?
Jawab:
Membaca Surat al-Fatihah merupakan rukun shalat, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi SAW:
عن عبادة بن الصامت يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب (صحيح مسلم ، ٥٩٥).
“Dari ‘Ubadah bin al-Shamit, Nabi SAW menyampaikan padanya bahwa tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca surat al-Fatihah.” (Shahih Muslim, [595]).
Sementara basmalah merupakan ayat dari Surat al-Fatihah. Maka tidak sah jika seseorang shalat ketika membaca surat al Fâtihah ia tidak membaca basmalah. Hal ini didasarkan kepada firman Allah SWT:
ولقد آتيناك سبعا من المثاني والقرآن العظيم . (الحجر ، ۸۷)
“Dan sungguh Kami telah berikan kepadamu (Nabi Muhammad) tujuh ayat yang berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.” (QS. al-Hijr, 87). Yang dimaksud dengan tujuh ayat yang berulang-ulang adalah Surat al-Fatihah, karena al-Fatihah itu terdiri dari ayat yang dibaca secara berulang-ulang pada tiap-tiap raka’at shalat. Dan ayat yang pertama adalah basmalah. Dalam sebuah Hadits disebutkan:
عن أبي هريرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم . الحمد لله رب العالمين ام القرآن وأم الكتاب والسبع المثاني (سنن ابي داود ، رقــــم).
“Dari Abi Hurairah RA, beliau berkata, “Rasûlullah SAW bersabda, “Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamin merupakan induk al-Qur’an, pokoknya al-Kitab, serta Surat al-Sab`u al-Matsani.” (Sunan Abi Dawud,[1245]).
Berdasarkan dalil ini, Imam Syafi’i RA mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat yang tujuh dalam surat al-Fatihah. Jika ditinggalkan, baik seluruhnya maupun sebagian, maka raka’at shalatnya tidak sah.
قال الشافعي بسم الله الرحمن الرحيم الأية السابـعة فإن تركها أو بعضها لم تحجزه الركعة التي تركها فيها . (الأم ، ج ۱ ص ۱۲۹)
“Imam Syafi’i RA mengatakan bahwa basmalah merupakan salah satu dari tujuh ayat dalam surat al-Fatihah. Apabila ditinggalkan atau tidak dibaca sebagian ayatnya, maka raka’atnya tidak cukup.” (Al-Umm, juz I, hal 129).
Karena merupakan bagian dari al-Fatihah, maka basmalah ini juga dianjurkan untuk dikeraskan ketika seseorang membaca al-Fatihah dalam shalatnya. Berdasarkan Hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجهر بالبسملة . (صحيح البخاري ، رقم ٣٤٥١).
“Dari Abi Hurairah RA, Bahwa Rasûlullah SAW (selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat).” (Shahih al Bukhari [3451]).
Menjelaskan Hadits ini, ‘Ali Nâyif Biqa’i dalam tahqiq kitab Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi karangan al-Subkî menjelaskan:
قال ابن خزيمة في مصنفه فأما الجهر ببسم الله الرحمن الرحيم فقد صح. وثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم بإسناد متصل لاشك ولا ارتياب عند أهل المعرفة بالأخبار في صحة سنده والتصاله فذكر هذا الحديث. ثم قال فقد بان وثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجهر ببسم الله الرحمن الرحيم في الصلاة. (معنى قول الإمام المطلبي إذا صح الحديث فهو مذهبي، تحقيق على نايف بقاعی: ص ١٦١).
“Ibn Khuzaimah berkata dalam kitab Mushannaf-nya, “(Pendapat yang menyatakan sunnah) mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada Hadits dari Nabi SAW dengan sanad yang muttashil (urutan perawi Hadits yang sampai langsung kepada Nabi Muhammad SAW), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli Hadits tentang shahih serta muttashil-nya sanad Hadits ini. Kemudian Ibn Khuzaimah berkata, “Telah jelas, dan telah terbukti bahwa Nabi SAW (dalam Hadits yang menyatakan) mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al Muththalibi Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, 161).
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat dari al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam shalat. Dan juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan sebagaimana sunnahnya mengeraskan (ayat-ayat-ed.) al-Fatihah dalam shalat jahriyyah (shalat yang dianjurkan untuk mengeraskan/memperdengarkan suara, terutama bila berjamaah, yaitu shalat wajib subuh, magrib, isya dan shalat sunnah lainnya yang dianjurkan untuk diperdengarkan bacaanya-ed.)
Makna Basmalah:
Basmalah adalah singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim, yang berarti "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Basmalah menjadi pembuka bagi sebagian besar surat dalam Al-Qur'an, kecuali Surat At-Taubah. Basmalah menekankan pentingnya menyebut nama Allah sebelum melakukan sesuatu sebagai bentuk pengakuan atas keesaan dan kekuasaan Allah dalam segala aspek kehidupan.
Posisi Basmalah di Surat al-Fatihah:
Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat yang sangat mulia dan dianggap sebagai doa utama dalam Shalat. Basmalah menjadi ayat pertama dalam surat ini, yang menandakan bahwa doa dan segala bentuk ibadah harus dimulai dengan menyebut nama Allah. Dengan demikian, seorang Muslim diajarkan untuk mengawali setiap perbuatan dengan doa dan memohon pertolongan serta petunjuk dari Allah.
Keberkahan dalam Membaca Basmalah:
Membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah memberikan berkah bagi setiap individu yang membacanya. Di hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah." Membaca Basmalah menjadi kunci pembuka yang menghubungkan hamba dengan Allah dan mengakui ketergantungan sepenuhnya kepada-Nya.
Mengarahkan Fokus Kepada Allah:
Membaca Basmalah sebelum Surat al-Fatihah dalam Shalat memungkinkan seorang Muslim untuk fokus pada ibadahnya, meninggalkan dunia dan segala urusannya, dan sepenuhnya menghadapkan hati dan pikiran kepada Allah. Hal ini membantu menciptakan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan membangun kesadaran tentang kehadiran-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Mengingat Sifat Allah yang Maha Penyayang dan Pengasih:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seorang Muslim diingatkan akan sifat-sifat mulia Allah. Allah adalah Maha Penyayang yang selalu memberikan rahmat dan pengampunan-Nya kepada hamba-Nya yang taat dan beriman. Sebagai Maha Pengasih, Allah senantiasa memberikan pertolongan dan bimbingan-Nya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah.
Simbol Keharmonisan dan Kesatuan dalam Ibadah Muslim:
Membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah juga mencerminkan keharmonisan dan kesatuan dalam ibadah Muslim. Seluruh umat Islam di seluruh dunia, dari berbagai bahasa, budaya, dan latar belakang etnis, bersatu dalam membaca Basmalah dalam bahasa Arab, sebagai tanda persatuan dan kebersamaan dalam ibadah mereka kepada Allah.
Secara keseluruhan, membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah memiliki makna mendalam dan penting bagi umat Muslim. Basmalah menjadi gerbang spiritual yang membawa setiap hamba lebih dekat kepada Allah dan mengingatkan akan keesaan, kekuasaan, dan sifat-sifat-Nya yang maha mulia. Oleh karena itu, setiap Muslim dihimbau untuk menghayati makna dan keberkahan dalam membaca Basmalah dalam Surat al-Fatihah, baik dalam ibadah Shalat maupun dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari.
0 Komentar